GARUT – Revolusi Investigasi
Benda berbahaya tersebut pertama kali ditemukan oleh Dipa (25), warga setempat, saat tengah mencari madu di area perbukitan. Mortir ditemukan terselip di sela bebatuan, memicu kekhawatiran karena lokasi kerap dilalui warga untuk aktivitas sehari-hari.
“Saya kaget melihat bentuknya mencurigakan dan diduga mortir, langsung saya laporkan,” ujar Dipa kepada petugas di lokasi.
Mendapat laporan warga, Polsek Samarang bergerak cepat menuju lokasi dan langsung berkoordinasi dengan Polsek Tarogong Kaler, mengingat wilayah temuan masuk dalam yurisdiksi hukum Tarogong Kaler. Aparat gabungan kemudian melakukan pengecekan Tempat Kejadian Perkara (TKP) serta pengamanan awal.
Untuk mengantisipasi potensi bahaya, polisi memasang garis pembatas dan melarang warga mendekati lokasi. Situasi sempat membuat warga sekitar cemas, mengingat mortir merupakan munisi aktif yang berisiko tinggi jika terjadi ledakan.
Pihak kepolisian selanjutnya berkoordinasi dengan Tim Penjinak Bahan Peledak (Jibom) guna memastikan jenis, kondisi, serta tingkat ancaman mortir tersebut. Hingga saat ini, polisi masih melakukan pendalaman terkait asal-usul munisi, termasuk dugaan apakah mortir tersebut merupakan sisa peninggalan lama atau berasal dari sumber lain.
Kepolisian mengimbau masyarakat agar tidak menyentuh atau memindahkan benda mencurigakan yang diduga bahan peledak, serta segera melaporkannya kepada aparat berwenang demi keselamatan bersama.


.jpeg)

