UCAPAN RAMADHAN

IKLAN DI HALAMAN UTAMA D ATAS

'Advertisement'
ADVERTISEMENT

no-style

BREAKING NEWS

Loading...

Haol Mbu Ncah dan KH. Ajengan Ma'mun Najmuddin Berlangsung Khidmat, Menjadi Momentum Menjaga Warisan Ulama, Silsilah Leluhur, dan Pengabdian kepada Masyarakat

Alimudin Garbiz
7/06/26, 21:45 WIB Last Updated 2026-07-07T02:48:12Z
GARUT – Pondok Pesantren Harikukun kembali menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar, para ulama, alumni, tokoh masyarakat, serta jamaah dari berbagai daerah di Jawa Barat dalam pelaksanaan Haol Mbu Ncah dan KH. Ajengan Ma'mun Najmuddin bin Abah Yusuf bin Abah Utsman bin Abah Abdi Manaf. Kegiatan yang berlangsung dengan penuh kekhidmatan tersebut dihadiri para kyai, ajengan, unsur Majelis Ulama Indonesia (MUI), alumni pesantren, serta masyarakat yang datang untuk bersama-sama mendoakan para leluhur dan mempererat tali silaturahmi. Haol yang diselenggarakan setiap tahun ini tidak hanya menjadi tradisi keagamaan untuk mengirimkan doa kepada para pendahulu, tetapi juga menjadi sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah, menjaga kesinambungan sejarah keluarga, serta meneguhkan semangat melestarikan perjuangan para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam. Sejak awal acara, suasana religius begitu terasa. Rangkaian kegiatan diawali dengan tawasul, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, doa bersama, pengajian, hingga tausiyah yang mengajak seluruh jamaah untuk meneladani perjuangan para pendahulu dalam membangun kehidupan beragama yang kokoh, berakhlakul karimah, dan penuh keikhlasan. Dalam kesempatan tersebut, sesepuh sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Harikukun Pangersa, KH. Mohammad Hasan Mustofa, menyampaikan bahwa pelaksanaan haol bukan sekadar mengenang nama para leluhur, melainkan juga menjaga sanad keilmuan, silsilah keluarga, dan nilai-nilai perjuangan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Beliau menjelaskan bahwa garis keturunan keluarga besar Harikukun bermula dari Raden Darga atau Darma Manggala yang memiliki enam orang anak. Dari keturunannya lahirlah Eyang Qornaen Cijaura dan Nyimas Raden Siti Aisyah, yang lebih dikenal dengan sebutan Mbu Ncah. Mbu Ncah menikah dengan Abah Utsman bin Abah Abdi Manaf dan dikaruniai tiga orang putra, yaitu Abah Sholeh yang menetap di Cilawu Cipanas, Abah Yusuf di Harikukun, serta Abah Umar di Samarang, Cigadog, Cikajang. Dari jalur Abah Sholeh, beliau menikah dengan Fatimah dan dikaruniai seorang putri bernama Hj. Oto Toyibah. Selanjutnya, Hj. Oto Toyibah menikah dengan Ajengan H. Mohammad Engkos Kosim dan dikaruniai lima orang anak, yaitu Hj. Rohaesih, S.Pd, Saepuloh, Jamaludin, M.Ag, Aam Salamah, dan Alimudin, S.Pd.I., M.Ud. Sementara itu, dari jalur Abah Yusuf Harikukun lahirlah KH. Ajengan Ma'mun Najmuddin, tokoh ulama yang diperingati dalam pelaksanaan haol tersebut. Beliau menikah dengan Nyimas Raden Taslimah binti Raden Afifudin Sadang Lebak. KH. Mohammad Hasan Mustofa menjelaskan bahwa dari jalur Nyimas Raden Taslimah, silsilah keluarga bersambung kepada Mama Syarkowi, kemudian Mama M. Tobry, Mama Nurhikam, hingga Bani Nuryayi, yang merupakan keturunan Sunan Gunung Djati. Catatan silsilah tersebut terdokumentasi dalam kitab karya Mama Raden KH. Burhan bin Mama Qornaen Cijaura Margasari Bandung, sehingga menjadi salah satu rujukan penting bagi keluarga besar dalam menjaga kesinambungan nasab. Beliau juga menerangkan bahwa Mbu Ncah merupakan keturunan generasi ke-11 dari Pamijahan. Adapun KH. Mohammad Hasan Mustofa merupakan generasi ke-4 dari garis keturunan Mbu Ncah melalui jalur KH. Ajengan Ma'mun Najmuddin. Lebih jauh, beliau menjelaskan bahwa garis nasab keluarga juga memiliki hubungan sejarah yang panjang. Dari jalur ke atas, silsilah tersebut tersambung melalui Sukapura, kemudian kepada Raja Panjang Raden Hadiwijaya, yang dikenal pula sebagai Joko Tingkir atau Raden Mas Karebet, kemudian bersambung kepada Sunan Giri, hingga Syekh Jumadil Qubro, salah seorang tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Menurut KH. Mohammad Hasan Mustofa, menjaga silsilah bukanlah untuk membanggakan garis keturunan, melainkan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah mengabdikan hidupnya bagi dakwah Islam, pendidikan pesantren, dan pembinaan umat. Dengan memahami sejarah keluarga, generasi penerus diharapkan mampu meneladani akhlak, keilmuan, serta semangat pengabdian para pendahulu. Beliau menambahkan bahwa para ulama terdahulu tidak hanya meninggalkan hubungan darah, tetapi juga mewariskan ilmu, adab, keteladanan, dan semangat melayani masyarakat. Nilai-nilai tersebut harus terus dijaga agar tetap hidup dan menjadi pedoman bagi generasi masa kini maupun masa mendatang.
Sepanjang kegiatan berlangsung, suasana kekeluargaan tampak begitu erat. Para alumni Pondok Pesantren Harikukun, para kyai, ajengan, tokoh masyarakat, dan keluarga besar saling bersilaturahmi serta mengenang perjalanan dakwah para pendahulu. Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa persatuan, ukhuwah, dan kebersamaan merupakan warisan berharga yang harus terus dipelihara. Selain menjadi media untuk mengenang jasa para leluhur, haol juga menjadi ruang edukasi bagi generasi muda agar mengenal sejarah keluarganya, memahami mata rantai silsilah yang diwariskan, serta memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan perjuangan para ulama melalui dakwah, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat. Rangkaian kegiatan tidak berhenti pada pelaksanaan haol. Sebagai wujud nyata pengamalan nilai-nilai yang diwariskan para ulama, keluarga besar Pondok Pesantren Harikukun juga akan menggelar kegiatan sosial pada Ahad, 12 Juli, berupa khitanan massal dan santunan bagi masyarakat. Kegiatan tersebut merupakan hasil kerja sama antara Pondok Pesantren Harikukun dengan Pondok Pesantren Margasari Cijaura, Bandung. Melalui kegiatan sosial tersebut, keluarga besar pesantren berharap semangat kepedulian dan pengabdian yang diwariskan para leluhur tidak hanya dikenang melalui doa dan pelaksanaan haol, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Dengan demikian, warisan para ulama akan terus hidup melalui ilmu, akhlak, persaudaraan, dan kepedulian sosial yang dirasakan oleh generasi sekarang maupun yang akan datang. – Alimudin Garbiz, Revolusi Investigasi
Komentar

Tampilkan

Terkini

Parlementaria

+