GARUT – Helaran karnaval dalam rangka Gebyar Pesona Budaya Garut (GPBG) 2026 tidak sekadar menjadi tontonan budaya, tetapi juga dinilai sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Ribuan warga memadati kawasan Jalan Ahmad Yani, Garut Kota, saat pembukaan acara yang berlangsung meriah dan penuh warna.
Kegiatan yang dibuka langsung oleh Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, menampilkan beragam atraksi, termasuk fragmen sejarah perpindahan ibu kota dari Limbangan ke Garut Kota. Peserta karnaval berasal dari berbagai unsur, mulai dari komunitas seni, perangkat daerah, hingga delegasi lintas daerah dan provinsi.
Dalam keterangannya, Putri menegaskan bahwa GPBG bukan hanya agenda seremonial tahunan, tetapi memiliki dampak nyata terhadap ekonomi masyarakat kecil. Ia menggambarkan potensi perputaran uang dari aktivitas pengunjung yang berbelanja di lapak pedagang kaki lima selama acara berlangsung.
“Kalau ribuan pengunjung hadir dan masing-masing berbelanja, ini langsung dirasakan oleh pelaku usaha kecil. Ini yang ingin kita dorong,” ujarnya.
Selain aspek ekonomi, Putri juga menyoroti pentingnya GPBG sebagai ruang ekspresi bagi pelaku seni lokal. Ia berharap kegiatan ini mampu menjadi pijakan bagi seniman Garut untuk berkembang lebih luas, bahkan hingga tingkat nasional.
Senada, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menyebut keberhasilan penyelenggaraan GPBG merupakan hasil kerja kolektif berbagai pihak, termasuk dukungan pemerintah pusat dan provinsi. Ia menambahkan, perhelatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Garut yang mengalami penyesuaian waktu karena bertepatan dengan bulan Ramadan.
Menurut Syakur, tema “Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang” mencerminkan semangat daerah yang terus tumbuh dan bersinar dengan kekuatan budaya lokal. Hal itu terlihat dari berbagai penampilan seni khas seperti Surak Ibra dan Raja Dogar yang menjadi daya tarik utama.
Apresiasi juga datang dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Melalui perwakilannya, Nova Arisne menyampaikan bahwa GPBG 2026 resmi masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN), bahkan Garut berhasil meloloskan dua event unggulan ke tingkat nasional.
Menurutnya, pencapaian ini menunjukkan bahwa Garut memiliki kekuatan budaya dan kreativitas yang mampu bersaing secara nasional. Ia menilai, keberadaan event seperti GPBG berperan penting dalam menarik wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Kami melihat potensi besar dari Garut, baik dari sisi budaya maupun ekonomi kreatifnya. Ini perlu terus dikembangkan agar bisa naik kelas menjadi event berstandar internasional,” ungkapnya.
Rangkaian kegiatan GPBG berlanjut hingga malam hari dengan berbagai pertunjukan seni dan budaya. Mulai dari tari kolosal, musik etnik, hingga pagelaran wayang bobodoran, semuanya menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas budaya sekaligus menarik minat wisatawan.
Dengan antusiasme masyarakat yang tinggi dan dukungan berbagai pihak, GPBG 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga momentum strategis untuk menggerakkan ekonomi lokal serta memperkuat posisi Kabupaten Garut di kancah nasional.
(Sumarna/REevolusi Investigasi)




