Oleh : Juniaidin Basri
Revolusi Investigasi|Opini
Memasuki usia ke-79 tahun, diskursus tentang HMI tidak terlepas dari kontribusinya dalam menyuplai stok kepemimpinan nasional, regional dan daerah. Namun, tantangan kepemimpinan di era ini telah bergeser. Pemimpin masa depan tidak lagi cukup hanya berbekal loyalitas dan kemampuan retorika semata, melainkan harus memiliki kapasitas adaptif di tengah ketidakpastian global. Futurolog John Naisbitt’s (1994) dan Patricia Aburdene (1990) menggambarkan bahwa trend masyarakat moderen cirinya; ada perubahan masyarakat dari industri menjadi masyarakat informasi, tekhnologi paksa menjadi high tech-haigh touch, sentralisasi menjadi desentralisasi, demokrasi repsentatif menjadi demokrasi partisipatif dan herarki organisasi menjadi jaringan. Berbagai trend perubahan tersebut menuntut pola perkaderan HMI pada setiap level dan jenjang untuk terus melakukan perubahan baik pada aspek in put, proses, maupun out put, sehingga menghasilkan out come yang berdampak terhadap kualitas kepemimpinan kader.
Kekuatan utama kepemimpinan HMI sejatinya terletak pada Nilai Dasar Perjuangan (NDP) atau sebelumnya Nilai Identitas Kader (NIK), karena NDP/NIK menjadi nilai pembeda ber HMI atau non HMI. Di tengah krisis keteladanan kepemimpinan baik ruang privat maupun publik, kader HMI dituntut untuk menjadi pemimpin yang memiliki integritas moral yang kokoh, pengatahuan yang luas serta pengalaman yang mumpuni. Kepemimpinan HMI harus menjadi antitesis dari pragmatisme politik saat ini, yang telah menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan dan sasaran yang dikehendaki. Sejarah mencatat bahwa pemimpin yang sederhana dan ketulusan dalam merawat dan mengelola umat terhindar dari kemiskinan dan kebodohan menjadi fondasi utama keberlangsungan negara.
Kepemimpinan HMI; dari Nilai Spiritual ke Manjerial Moderen
Kualitas kepemimpinan dewasa ini, tidak lagi mengandalkan semangat dan keteladanan individu saja, melainkan dituntut mempunyai kemampuan literasi "melek" teknologi. HMI juga perlu melahirkan pemimpin yang mampu mengintegrasikan nilai spiritual dengan kecakapan manajerial modern. Kepemimpinan di level komisariat hingga PB HMI harus mulai bertransformasi menggunakan pendekatan berbasis data dalam pengambilan keputusan.
Gaya kepemimpinan yang sentralistik mulai usang. Di usia ke-79 ini, HMI harus memperkuat model kepemimpinan yang kolaboratif dan inklusif. Butuh keberanian untuk melakukan perubahan dari model organisasi berbasis herarki strukturalis yang kaku dan tradisional menuju organisasi berbasis jejaring (networking) mulai dari level Komisariat hingga PB. HMI. Kita harus semakin jujur, bahwa kepemimpinan HMI di banyak level masih terjebak pada gaya "aktivisme tahun 90-an". Rapat-rapat panjang yang tidak efisien, retorika yang berbuih-buih tanpa basis data, dan struktur organisasi yang birokratis dan kaku cukuplah menjadi beban sejarah dan lantera masa lalu. Di saat dunia luar sudah bicara soal Artificial Intelligence, Blockchain, dan Big Data, sebagian kader kita masih sibuk berkonflik internal demi posisi seremonial. Bila situasi ini terus berlanjut maka tidak menutup kemungkinan kader HMI hanya akan menjadi fosil intelektual.
HMI; Intelektual ke Kepemimpinan High Order Thunking Skills
Kepemimpinan masa kini bukan lagi soal siapa yang paling keras berteriak di jalanan, tapi siapa yang mampu menguasai narasi di ruang digital. Algoritma saat ini menentukan apa yang dipikirkan masyarakat. Jika pemimpin HMI tidak mampu mengisi ruang digital dengan gagasan yang segar dan solutif, maka posisi "ikon intelektual" itu akan direbut oleh influencer atau robot AI yang lebih cekatan menjawab keresahan umat. Kita butuh pemimpin yang tidak hanya paham cara mengelola massa di lapangan, tapi juga mampu mengelola manajemen pengetahuan di dunia maya. Modernisasi organisasi seperti yang tengah diupayakan melalui inisiatif HMI Digital harus menjadi jantung gerakan, bukan sekadar etalase. Untuk mewujudkan perubahan yang nyata di usia HMI yang ke 79, kuncinya tetap pada sistem dan pola perkaderan formal dan informal HMI dengan cara membuat peta jalan (road map) perkaderan HMI di era Society 5.0 menuntut transformasi fundamental untuk menyelaraskan nilai dasar organisasi dengan dinamika masyarakat super cerdas yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi dengan basis kepemimpinan yang High Order Thinking Skills (HOTS): Kader didorong untuk memiliki daya pikir kritis, fleksibel, dan metodis guna mengolah informasi di era banjir data. Semoga
Kekuatan utama kepemimpinan HMI sejatinya terletak pada Nilai Dasar Perjuangan (NDP) atau sebelumnya Nilai Identitas Kader (NIK), karena NDP/NIK menjadi nilai pembeda ber HMI atau non HMI. Di tengah krisis keteladanan kepemimpinan baik ruang privat maupun publik, kader HMI dituntut untuk menjadi pemimpin yang memiliki integritas moral yang kokoh, pengatahuan yang luas serta pengalaman yang mumpuni. Kepemimpinan HMI harus menjadi antitesis dari pragmatisme politik saat ini, yang telah menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan dan sasaran yang dikehendaki. Sejarah mencatat bahwa pemimpin yang sederhana dan ketulusan dalam merawat dan mengelola umat terhindar dari kemiskinan dan kebodohan menjadi fondasi utama keberlangsungan negara.
Kepemimpinan HMI; dari Nilai Spiritual ke Manjerial Moderen
Kualitas kepemimpinan dewasa ini, tidak lagi mengandalkan semangat dan keteladanan individu saja, melainkan dituntut mempunyai kemampuan literasi "melek" teknologi. HMI juga perlu melahirkan pemimpin yang mampu mengintegrasikan nilai spiritual dengan kecakapan manajerial modern. Kepemimpinan di level komisariat hingga PB HMI harus mulai bertransformasi menggunakan pendekatan berbasis data dalam pengambilan keputusan.
Gaya kepemimpinan yang sentralistik mulai usang. Di usia ke-79 ini, HMI harus memperkuat model kepemimpinan yang kolaboratif dan inklusif. Butuh keberanian untuk melakukan perubahan dari model organisasi berbasis herarki strukturalis yang kaku dan tradisional menuju organisasi berbasis jejaring (networking) mulai dari level Komisariat hingga PB. HMI. Kita harus semakin jujur, bahwa kepemimpinan HMI di banyak level masih terjebak pada gaya "aktivisme tahun 90-an". Rapat-rapat panjang yang tidak efisien, retorika yang berbuih-buih tanpa basis data, dan struktur organisasi yang birokratis dan kaku cukuplah menjadi beban sejarah dan lantera masa lalu. Di saat dunia luar sudah bicara soal Artificial Intelligence, Blockchain, dan Big Data, sebagian kader kita masih sibuk berkonflik internal demi posisi seremonial. Bila situasi ini terus berlanjut maka tidak menutup kemungkinan kader HMI hanya akan menjadi fosil intelektual.
HMI; Intelektual ke Kepemimpinan High Order Thunking Skills
Kepemimpinan masa kini bukan lagi soal siapa yang paling keras berteriak di jalanan, tapi siapa yang mampu menguasai narasi di ruang digital. Algoritma saat ini menentukan apa yang dipikirkan masyarakat. Jika pemimpin HMI tidak mampu mengisi ruang digital dengan gagasan yang segar dan solutif, maka posisi "ikon intelektual" itu akan direbut oleh influencer atau robot AI yang lebih cekatan menjawab keresahan umat. Kita butuh pemimpin yang tidak hanya paham cara mengelola massa di lapangan, tapi juga mampu mengelola manajemen pengetahuan di dunia maya. Modernisasi organisasi seperti yang tengah diupayakan melalui inisiatif HMI Digital harus menjadi jantung gerakan, bukan sekadar etalase. Untuk mewujudkan perubahan yang nyata di usia HMI yang ke 79, kuncinya tetap pada sistem dan pola perkaderan formal dan informal HMI dengan cara membuat peta jalan (road map) perkaderan HMI di era Society 5.0 menuntut transformasi fundamental untuk menyelaraskan nilai dasar organisasi dengan dinamika masyarakat super cerdas yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi dengan basis kepemimpinan yang High Order Thinking Skills (HOTS): Kader didorong untuk memiliki daya pikir kritis, fleksibel, dan metodis guna mengolah informasi di era banjir data. Semoga
Penulis: Junaidin Basri (Mantum HMI Cabang Garut 1998-1999)
#MiladHMI79
#DisenatalisHMI79
#KhidmatHMIuntukIndonesia
#YakinUsahaSampai
#MiladHMI79
#DisenatalisHMI79
#KhidmatHMIuntukIndonesia
#YakinUsahaSampai



