Surabaya | RevolusiNews– Aksi pemerasan bermodus ormas fiktif kembali terbongkar. Dua mahasiswa asal Surabaya ditangkap tim Subdit I Renakta Ditreskrimum Polda Jawa Timur setelah mencoba memeras Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai.
Kedua pelaku, berinisial SH alias BS (24) asal Bangkalan dan MSS (26) asal Pontianak, mengklaim sebagai anggota organisasi anti-korupsi bernama Front Gerakan Rakyat (FGR). Belakangan diketahui, ormas itu tidak memiliki legalitas dan hanya beranggotakan dua orang—yakni para pelaku itu sendiri.
Modusnya: mereka mengirim surat pemberitahuan akan menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Dinas Pendidikan Jatim pada 21 Juli 2025. Dalam suratnya, mereka menuding Aries terlibat korupsi dana hibah dan isu perselingkuhan dengan istri anggota TNI. Namun, semua tuduhan itu tidak pernah terbukti.
Aksi mereka ternyata hanya akal-akalan. Keduanya menekan Aries untuk memberikan uang damai sebesar Rp50 juta agar demo dibatalkan dan isu tidak dipublikasikan ke media sosial.
Merasa terancam, pihak Aries melaporkan kejadian ini ke Polda Jatim. Polisi kemudian mengatur skenario penangkapan. Pada malam 19 Juli 2025, saat uang sebesar Rp20 juta diserahkan di sebuah kafe di kawasan Ngagel Jaya Selatan, keduanya langsung digulung dalam operasi tangkap tangan (OTT).
Polisi menyita barang bukti berupa uang tunai Rp20.050.000, dua unit ponsel, satu sepeda motor, dan surat pemberitahuan demo. Kini keduanya mendekam di tahanan dan dijerat pasal berlapis: Pasal 368 KUHP tentang pemerasan, Pasal 369 KUHP tentang ancaman, serta Pasal 310 dan 311 KUHP tentang pencemaran nama baik dan fitnah.
“Organisasi yang mereka gunakan adalah fiktif, hanya untuk mencari keuntungan pribadi lewat pemerasan. Ini bukan aktivisme, ini kriminal,” tegas Kabid Humas Polda Jatim Kombes Dirmanto kepada awak media.
Polda Jatim mengimbau masyarakat waspada terhadap modus ormas gadungan yang kerap mengancam pejabat atau instansi publik dengan dalih isu moral dan korupsi. Masyarakat diminta segera melapor bila menjadi korban.
Kasus ini membuka mata bahwa tak semua yang mengatasnamakan gerakan rakyat adalah pejuang kebenaran. Di balik spanduk dan poster, kadang tersembunyi niat kejahatan yang membajak idealisme demi keuntungan pribadi.*Red

