REVOLUSI INVESTIGASI – Dunia kembali dihadapkan pada ancaman penyakit pernapasan yang disebut sejumlah pakar sebagai “super flu”, yakni varian influenza dengan tingkat penularan tinggi dan potensi dampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Meski belum ditetapkan sebagai pandemi, fenomena ini menjadi perhatian global karena lonjakan kasus flu berat di berbagai negara.
Berdasarkan laporan sejumlah media internasional dan lembaga kesehatan, super flu merujuk pada kombinasi mutasi virus influenza yang menyebabkan gejala lebih berat dibanding flu musiman biasa. Beberapa negara melaporkan peningkatan rawat inap akibat infeksi saluran pernapasan akut, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit kronis.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, secara langsung memberikan klarifikasi terkait fenomena ini. Dalam konferensi pers yang juga disiarkan melalui kanal resmi media massa, Menkes menyatakan bahwa meskipun varian subclade K disebut “super flu”, virus tersebut bukan ancaman yang setara dengan COVID-19—baik dari segi tingkat kematian maupun dampaknya.
Pakar epidemiologi menilai kemunculan super flu dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain penurunan imunitas pascapandemi COVID-19, mobilitas global yang kembali tinggi, serta rendahnya cakupan vaksin influenza di sejumlah wilayah. Kondisi ini membuat virus lebih mudah menyebar dan berevolusi.
Organisasi kesehatan internasional mengimbau pemerintah di berbagai negara untuk meningkatkan surveilans penyakit, memperkuat sistem layanan kesehatan, serta mengedukasi masyarakat agar tidak menyepelekan gejala flu berat. Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri jika mengalami demam tinggi berkepanjangan, sesak napas, atau kelelahan ekstrem.
Di Indonesia, otoritas kesehatan terus memantau perkembangan kasus influenza dan penyakit pernapasan lainnya. Pemerintah mengimbau masyarakat tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker saat sakit, serta mempertimbangkan vaksinasi flu sebagai langkah pencegahan.
Meski istilah “super flu” belum menjadi nomenklatur resmi medis, para ahli sepakat bahwa kewaspadaan dini sangat penting. Pengalaman pandemi sebelumnya menjadi pelajaran bahwa keterlambatan respons dapat berdampak luas, baik pada sektor kesehatan maupun sosial-ekonomi.
Red



