Oleh : Junaidin Basri
Revolusi Investigasi|Opini
Sampurasun...
Tepat tanggal 16 Februari 2026. Kabupaten Garut telah menginjak usia ke 213, usia daerah yang melampaui Republik, kalau di analogikan pada usia manusia mungkin sudah hidup pada generasi ke 4-5. Perayaan HJD ke 213 bukan tanpa alasan, tetapi merujuk pada Perda No. 30 Tahun 2011, bahwa berdirinya Kabupaten Garut pada tanggal 16 Februari 1813, bertepatan dengan hari pelantikan R.A.A. Adiwijaya sebagai Bupati Limbangan.
Sementara versi yang lama sebelum tahun 2011 tepatnya sejak tahun (1963-2011) mengacu pada ditemukan bukti material adanya tulisan kata "Garoet" pada prasasti peresmian Jembatan Leuwidaun.
Terlepas dari dealektika penetapan hari jadi Garut antara tahun 1813, 1925 (sesuai keputusan gubernur jenderal hindia belanda) dan 1963, secara administrasi dan kelembagaan pemerintah daerah terus berjalan hingga terwujud masyarakat yang silih asah silih asuh tata tenteram kartarahardja.
Garut Hebat IPM Macet
Fakta menunjukkan bahwa hingga saat ini Indeks pembangunan manusia (IPM) masih berada pada urutan ke 25 dari 27 Kabupaten/Kota di Jawa Barat, angka yang sangat keramat sejak kepemimpinan di era reformasi, kinerja pemerintah berbasis IPM masih menemukan jalan terjal.
Meskipun pada era kepemimpinan Syakur-Putri penilaian capaian IPM pada tahun 2025 masuk dalam kategori sangat tinggi yakni berada pada angka (70,67). Kendatipun kategori angka sangat tinggi tetapi peringkat IPM masih tetap.
Berdasarkan analisis para pemerhati kebijakan publik, yang menjadi faktor penghambat capaian IPM Garut masih rendah dipengaruhi aspek pendidikan, kesehatan dan daya beli masyarakat.
Faktor pendidikan; masih ditemukan data rata-rata lama sekolah (RLS) pada kisar (7, 6 s/d 8) tahun, yang mengandung makna data bahwa rata-rata penduduk Garut masih berpendidikan kelas (1 s/d 2) SMP/MTS/Paket B. Selain itu angka putus sekolah masih tinggi. Tingginya angka putus sekolah berbanding lurus dengan faktor rendahnya beli ekonomi masyarakat kita. Meskipun demikian angka harapan lama sekolah (HLS) sudah mengalami pergeseran dari periode sebelumnya yakni 12 tahun atau setara SMA.
Faktor kesehatan dan faktor ekonomi juga menjadi penentu penyumbang meningkat dan turunnya capaian IPM sebuah daerah.
Pertanyaan selanjutnya apa langkah-langkah konkret yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah dalam menjawab berbagai permasalahannya yang sedang dihadapi agar perayaan dan peringatan HJG Garut ke 213 menjadi lebih bermakna, berdampak dan berkelanjutan terhadap kualitas pelayanan publik yang berkualitas tinggi, pendidikan gratis, inklusif dan bermutu, tersedia lapangan pekerjaan baru, fasilitas kesehatan yang terjangkau, gratis dan berkualitas.
Saya secara pribadi juga mengungkapkan "selamat hari jadi Garut ke 213, semoga Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang (bersinar, kokoh dan Berwibawa) menjadi kenyataan.
Mung sakit anu kapihatur, hapunten bilih aya kalepatan, hatur nuhun.
Junaidin Basri (Praktisi dan Pemerhati Pendidikan)



